“Gadis Tangsi” karya Suparto Brata

Satu kata yang pas untuk karya ini “hebat”. Ya. Itulah kata yang pas, setelah saya membaca karya besar ini. Saya sangat takjub dengan tema yang diangkat oleh sang penulis. Suparto dengan berani mengungkapkan bagaimana keadaan suatu wilayah, bagaimana kebudayaan, dan bagaimana realitas kehidupan budaya tersebut yang menentang budayanya.

Saya sangat kaget pada ending cerita karena sangat berbeda dengan prediksi yang ada dalam benak saya saat belum selesai membacanya. Saya mengira bahwa ceritanya akan berending sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Ternyata tidak. Sungguh hebat,

Teyi…..itulah nama tokoh utama yang terdapat dalam novel ini. Seorang gadis cilik yang hidup dalam lingkungan tangsi yang keras. Hidup dengan penuh perjuangan demi memenuhi cita-cita orang tuanya. Menurut saya, dalam cerita ini terdapat ekploitasi pada anak. Kenapa? Karena dalam cerita ini, bagaimana seorang gadis kecil, dipaksa oleh ibunya untuk selalu bekerja, bekerja dan bekerja demi menupulkan uang lebih banyak demi alasan agar biasa kaya.

Semangat sang ibu untuk mengumpulkan kekayaan ini terpicu kala seorang kerabatnya (adik iparnya) yang bernama Yu Camik yang menuduh dia sebagai seorang perempuan miskin yang hanya bisa mengharapkan kekayaan dari keluarga suaminya. Tentu saja Raminem – ibu Teyi – sangat panas mendengarkannya. Siapapun yang manusia, jika dituduh seperti hal itu, padahal dia tidak pernah mengharapkan hal tersebut, tentu akan merasakan hal yang sama dengan Raminem.

Teyi….sang tokoh cilik, patuh mengikuti kemauan ibunya, walaupun sering juga menggerutu, dan merasa iri pada teman-temannya. Siapa yang tidak iri, jika anak-anak yang seusianya dengan sangat bebas bermain sesuka hati mereka tanpa ada kekangan dan batasan dari orang tua. Itulah yang dialami Teyi. Dia menjual gorengan dari pagi sampai gorengan itu habis. Setelah habis pun dia tidak boleh bermain-main, jika tetap bermain tentu akan mendapatkan tambahan omelan.

Yang menarik bagi saya adalah watak dari Teyi. Dia anak yang patuh terhadap apa yang dikatakan ibunya, namun dibalik kepenurutan itu dia juga punya watak yang keras. Tekad yang kuat, dan rasa ingin tahu yang besar. Teyi selalu terangsang terhadap hal-hal baru yang ingin diketahuinya. Pergaulan dengan teman-teman yang berbagai macam karakter membuat Teyi belajar atas semua hal.

Teyi seorang gadis cilik yang hidup dalam kehidupan tangsi, adalah gambaran realitas yang mungkin bisa kita pelajari. Bagaimana kehidupan zaman dahulu, semasa penjajahan Belanda. Novel ini juga memperlihatkan interaksi antara pribumi dengan bangsa penjajah, Belanda. Kehidupan tangsi yang bebas membentuk tokoh ini menjadi seorang gadis yang liar tapi masih tetap mengingat aturan-aturan yang diajarkan oleh ibunya. Teyi yang berteman dengan anak-anak tangsi dengan berbagai karakter. Kehidupan seks anak kecil juga tergambar dalam novel ini. Bagaimana seorang anak kecil yaitu tokoh Keminik yang sudah melakukan hubungan seks dengan Gemi – seorang yang sudah beristri – bahkan dengan teman sepermainannya yaitu sumbing. Ajaran-ajaran seks yang dimasukkan oleh tokoh Kemini dalam otak Teyi telah melekat erat dalam pikiran Teyi. Dia melihat langsung hubungan persetubuhan temannya geminik dengan Suami dari lik Gemi, dan dia juga melihat adegan ciuman yang dilakukan oleh Keminik dengan sumbing. Semua itu merupakan hal yang menjijikkan bagi teyi. Pernah dia punya hasrat untuk melakukan hal yang seperti temannya, tapi segera ditepis dari benaknya. Karena dia takut simbok marah. Yang menjadi pagar dan benteng Teyi adalah Raminem. Dia sangat takut pada simboknya. Dia tidak ingin simboknya marah. Itulah kehidupan liar yang tergambar dalam novel ini

Ada seorang tokoh yang ingin mengubah karakter tokoh cilik ini, yaitu Putri Parasi, seorang putri keturunan kerajaan Solo. Dia seorang keponakan dari Sri Baginda Ingkang Sinuwun. Dia hidup dalam lingkungan kerajaan yang penuh dengan tata krama dan aturan kerajaan. Putri Parasi adalah salah satu dari hasil didikan kerajaan yang baik. Dia serang putri yang cerdas dan ayu, serta mengetahui dan menjalankan segala aturan kerajaan dengan baik.

Awal mula pertemuan antara Putri Parasi dengan Teyi adalah saat Teyi yang sengaja lewat loji (tempat tinggal pejabat tangsi) Putri Parasi dan kapten Sarjubehi. Rumah yang ditumbuhi pohon mangga dengan buah yang sangat menggiurkan bagi siapapun yang selalu ke sana. Sebelumnya Teyi diajak oleh teman-temannya untuk memakan mangga yang dirujak. Teyi ragu untuk memenuhi ajakan itu, karena dia merasa bahwa mangga itu didapat dengan cara yang tidak halal. Ibunya selalu mengingatkan untuk tidak mencuri atau memiliki hal yang tidak menjadi hak miliknya. Walaupun keras dan terkesan sedikit kejam, ibu Raminem tetap menanamkan nilai-nilai luhur bagi pelajaran hidup anaknya. Dibalik kekerasan sikapnya itu, dia ingin membentuk anaknya berbeda dengan yang lain, tentu dengan menggunakan caranya sendiri.

Untuk menguatkan hatinya agar tidak ikut makan buah mangga yang dirujak itu, Teyi segera meninggalkan teman-temannya itu dan menjajakan gorengannya seperti biasa. Kali ini dia mencoba melewati rumah pemilik pohon mangga yang dicuri oleh Keminik dan teman-temannya tadi, dengan harapan dia bisa mendapatkan mangga dari sang pemilik rumah tersebut. Saat menjajakan itulah Ninek Jidan melihat Teyi yang menjajakan gorengan dan membeli gorengannya. Merekapun bercakap-cakap sebentar. Melalui cerita Ninek Jidan Teyi mengetahui tentang Putri Parasi walalupun pada awal kesana dia tidak melihat siapa-siapa kecuali Ninek Jidan. Ninek jidan adalah pengasuh Putri Parasi sejak kecil. Beliau bagaikan pengganti dari ibunda Putri Parasi. Namun begitu, Ninek jidan tetap mengabdi sebagai seorang pengasuh pada Putri Parasi.

Saat datang untuk yang kedua kalinya…..Teyi barulah bertemu dengan Putri Parasi. Dia sangat takjub akan kecantikan putri tersebut, karena belum pernah seumur hidup dia bertemu dengan orang yang secantik Putri Parasi. Bagaikan seorang putri dalam cerita-cerita dongeng yang ada dalam benaknya. Maka terjadilah interaksi Antara mereka yang efektif setiap harinya. Teyi selalu kesana, setelah siang, setelah gorengannya habis, atau tinggal sedikit. Jika gorengan itu tidak habis, maka Ninek Jidan lah yang akan memborong semuanya.

Kehadiran Teyi setiap hari menumbuhkan semangat Putri Parasi. Dia bagaikan punya teman dan mengingatkan dia kembali pada keluarga dikerajaan. Disini Putri Parasi sudah bertekad, bahwa dia tidak akan pulang kekerajaan setelah empat tahun. Dia akan setia mendampingi suaminya dimanapun beliau ditugaskan, meskipun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dengan kondisi kerajaan. Hidup dengan sederhana dan bersahaja.

Disinilah bermulanya hubungan antara keduanya. Sedikit demi sedikit Putri Parasi mengajarkan pada Teyi tentang tatakrama dan cara hidup dalam kerajaan. Mulai dari bahasa dan bertingkah laku. Teyi sangat senang akan semua ini. Dia bagaikan hidup dalam dunia mimpi dan khayalan. Semua yang diajarkan oleh Putri Parasi dijalankan dengan sangat baik dan tepat. Hubungan pertemanan ini tidak mendapat restu dari Raminem, ibu Teyi. Dia tidak mengizinkan anaknya dekat-dekat pada keluarga kerajaan itu, karena takut sesuatu akan menimpa anaknya. Takut anaknya akan dijadikan munci (gundik, atau selir). Bagi sebagian besar penduduk tangsi, dimunci oleh orang kaya apalagi oleh orang kerajaan merupakan sesuatu yang terhormat dan akan mendapatkan kesenangan hidup dengan kecukupan harta. Tapi lain halnya dengan Raminem. Dia tidak ingin anaknya dimunci, dia ingin anaknya memiliki status pernikahan yang jelas. Tidak seperti selir, yang tidak memiliki status pernikahan yang jelas.

Putri Parasi sangat menyayangi Teyi. Dia sudah bertekad untuk menjadikan Teyi sebagai anak didiknya yang hebat. Segala hal diajarkan. Sampai pada baca tulis Belanda juga diajarkan. Disinilah Teyi berubah. Teyi punya dua kehidupan yang berbeda. Di dalam loji Putri Parasi dia menjadi seorang Teyi yang pintar dan bertatakrama seperti orang kerajaan, sedangkan di luar loji dia tetap sebagai Teyi yang seperti biasa. Tidak satupun dari teman-temannya yang mengetahui hubungan rahasia antara Teyi dan Putri Parasi kecuali orang yang berada dalam loji itu saja, yaitu Ninek Jidan dan Kapten Sarjubehi yang merupakan suami dari Putri Parasi yang menjadi kapten di tangsi ini.

Sebagai seorang guru, Putri Parasi adalah guru yang luar biasa sabar. sedangkan sebagai seorang putri, dia adalah seorang yang cerdas dan penuh tatakrama dengan segudang kepandaian. Itu semua di tularkan pada Teyi. Putri Parasi bercita-cita untuk mencarikan seorang suami untuk Teyi. Dia menginginkan Teyi menikah dengan seorang pangeran yang ada di istana Jayaningratan. Kerajaan tempat Putri Parasi lahir dan dibesarkan. Tekad dan semangat ini sangat kuat. Namun sayang…..beberapa hari sebelum mereka akan pulang kekerajaan, Putri Parasi pun meninggal karena penyakit yang memang sudah menjadi langgananya sejak lama. Teyi sangat terpukul dengan kematian ini, karena itu berarti cita-citanya untuk melihat langsung kerajaan dan mendalami suasana kerajaan…pupus sudah. Semuanya benar-benar hanya sekedar mimpi.

Teyi kembali dalam kehidupannya semula sebagai seorang penjual goreng. Empat tahun kurang bergaul dengan Putri Parasi sangat berdampak pada perubahan karakternya. Teyi menjadi lebih dewasa dan patuh pada orang tuanya. Teyi yang semakin matang dan cantik serta pintar dan bisa berbahasa belanda. Kepintarannya ini baru diketahui oleh orangtunya kala Teyi bercakap-cakap dengan Kapten Sarjubehi di rumahnya, kala kapten sarjubehi meminta pada teyi untuk kembali ke loji dan mengurus rumahnya. Mereka berbicara menggunakan bahasa Belanda, ini disengaja oleh tuan Sarjubehi agar orangtuanya tidak salahpaham. Teyipun meladeni kapten itu dengan bahasa Belanda.

Ketakjuban meliputi kedua orangtanya. Maka mulailah Teyi bercerita tentang semuanya. Hubungannya dengan keluarga dalam loji selama empat tahun ini. Karena sudah mengetahui dengan jelas perihalnya, barulah Raminem mengizinkan Teyi mengrus loji, tapi tidak untuk tinggal disana. Karena dia tetap menginginkan anaknya suci, dan tidak di munci.

Sebenarnya ada terselip rasa ingin memiliki kapten Sarjubehi dalam benak Teyi. Tapi keinginan itu pupus setelah Dumilah – teman yang dipekerjakan Sarjubehi di lojinya setelah mendapatkan persetujuan dari Teyi – bercerita dengan gamblang tentang hubungan persetubuhan mereka. Teyi merasa menyesal, kenapa bukan dia, kenapa Dumilah!!!!

Semuanya dihapus Teyi dari benaknya. Semua keinginan-keinginan. Orang tuanya mulai mencari seseorang yang pantas untuk menjadi suaminya. Pilihan jatuh pada Sapardal. Seorang pegawai tangsi. Merekapun menikah. Namun saat pernikahan, Kapten Sarjubehi datang dengan ponakannya bernama Ndara Mas Kus Bandarkum. Walaupun mereka belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya, tapi mereka sudah sangat saling kenal. Ini dikarenakan surat menyurat yang terjadi antara mendiang Putri Parasi dengan ponakannya yang berada di kerajaan jayatiningrat. Dalam suasana itu Kus Bandarkum berbicara dengan Teyi dalam bahasa belanda, dan mengatakan kalau dia mencintai Teyi, walaupun Teyi baru saja menikah dan sah menjadi istri Sapardal. Saat kata-kata cinta itu di ucapkan Kus Bandarkum, perasaan Teyi semakin tidak tenang. Dia terngiang-ngiang terus akan kalimat tersebut. Sehingga terdapat dalam niatnya untuk mengakhiri pernikahan dengan Sapardal dengan alasan Sapardal bukanlah lelaki jantan yang tidak bisa melakukan hubungan semestinya pada malam pertama pernikahan mereka. Cerai, ituah yang dikatakannya pada bapak dan ibunya. Sapardal juga menerima begitu saja, dengan syarat Teyi tidak menceritakan tentang ketidak jantanannya. Sebenarnya bukan Sapardal tidak jantan, melainkan dia merasa segan pada Teyi yang dinilainya sebagai seorang wanita hebat, yang lebih tinggi dari dia, sehingga dia tidak berani menyentuh angsung Teyi pada saat malam pertama itu.

Sehari setelah pesta pernikahannya, Teyi segera pergi main ke loji, dengan alasan untuk menengok temannya, Dumillah. Padahal alasan utamanya adalah untuk bertemu dengan Kus Bandarkum, dan menyatakan persaan cintanya pada dia. Maka terjadilah hubungan persetubuhan diantara mereka, dan Teyi memutuskan untuk memilih Kus Bandarkum.

Bersambung….

Perempuan Itu adalah Ibuku

Perempuan yang bernama kesabaran
pabila malam menutup pintu-pintu rumah
masih saja ia duduk menjaga
anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan yang menangguhkan segalanya
bagi impian-impian mendatang. Telah memaafkan
anak-anak sepanjang jaman

Perempuan itu adalah ibuku
Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibuku

(1964)

By: Arifin C. Noer

Works List G11-G12 AY 2008-2009

Language A1 – Indonesian
Grade 11 until 12
Academic Year 2008-2009 continue to 2009-2010

Part 1 creator/author gendre level
World Literatur
1. Rumah Boneka Henrik Ibsen (Drama) HL/SL
2. Perempuan Dititik Nol Nawal El-Sadawi (Novel) HL/SL
3. Anna Karenina Leo Tolstoy (Novel) HL/SL

Part 2 creator/author gendre level
Indonesian Literature
1. Robohnya Surau Kami A.A. Navis (Short story) (HL)
Seleksinya:
- Robohnya surau kami
- Anak kebanggan
- Nasihat-nasihat
- Topi Helm
2. Panembahan Reso Rendra (Drama) HL/SL
3. Bumi Manusia Pramoedya Ananta Tour (Novel) HL/SL
4. Hujan Bulan Juni Sapardi Djko Damono (poetry) HL
- Diberanda waktu hujan
- Tentang matahari
- Yang fana dalam waktu
- Hujan Bulan Juni

Part 3 creator/author gendre level
World Lterature
1. Theresa Emile Zola (Novel) HL/SL
Indonesian Literature
1. Atheis Achdiat Karta Miharja (novel) (HL)
2. Domba-domba revolusi B. Soelarto (drama) HL/SL
3. Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari (Novel) HL/SL

Part 4 creator/author gendre level
School Free Choice
1. Saman Ayu Utaman (Novel) HL/SL
2. Tarian Bumi Oka Rumini (Novel) HL/SL
3. Salju Kilimanjaro Ernest Hemingway (short story) HL/SL
- Salju Kilimanjaro
- Sehari menunggu maut
- Di negeri asing
- Kebahagian hidup francis macomber yang singkat
4. Parang Tak Berulu Chairil Anwar (Short Story) (HL)

Remark
Part 1
HL Paper 1 (Comparative)
Paper 2 (Creative writing)
SL Paper 1
Part 2
Recorded 10-15 mntIndividual oral commentary
Part 3
for Exam IB
Part 4
Individual oral presentation students presentation (power point) 10-15 mnt
(Student can choose from 4 works they was learn in this part)

Note:
• WL 1 dan WL 2 Feb – Maret
• Internal Assessment (commentary & presentation) Desember – Januari
• MeiFinal Exam

Works List G11-G12 AY 2009-2010

Language A1 – Indonesian
Grade 11 until 12
Academic Year 2009-2010 continue to 2010-2011

Part 1 creator/author gendre level
World Literatur
1. Rumah Boneka Henrik Ibsen (Drama) HL/SL
2. Hamlet William Shakspear (Drama) HL/SL
3. Perempuan di Titik Nol Nawal El-Sadawi (Novel) HL/SL

Part 2 creator/author gendre level
Indonesian Literature
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan Umar Kayam (Short story) (HL)
2. Dar der Dor Putu Wijaya (Drama) HL/SL
3. Jantera Bianglala Ahmad Tohari (lihat RDP) (Novel) HL/SL
4. Hujan Bulan Juni Sapardi Djko Damono (poetry) HL

Part 3 creator/author gendre level
World Lterature
1. Theresa Emile Zola (Novel) HL/SL
Indonesian Literature
1. Domba-domba Revolusi B. Soelarto (drama) HL/SL
2. Harimau Harimau Ahmad Tohari (Novel) HL/SL
3. Matahari-Matahari Kecil Iman Budhi Santosa (poetry) HL

Part 4 creator/author gendre level
School Free Choice
World Literature
1. Penafsir Kepedihan Jhumpa Lahiri (Cerpen) HL/SL
Indonesian Lit
2. Saman Ayu Utaman (Novel) HL/SL
3. La Barka NH. Dini (Novel) HL/SL
4. Mega-Mega Arifin C Noer (Drama) (HL)

Remark
Part 1
HL Paper 1 (Comparative)
Paper 2 (Creative writing)
SL Paper 1
Part 2
Recorded 10-15 mntIndividual oral commentary
Part 3
for Exam IB
Part 4
Individual oral presentation students presentation (power point) 10-15 mnt
(Student can choose from 4 works they was learn in this part)

Note:
• WL 1 dan WL 2 Feb – Maret
• Internal Assessment (commentary & presentation) Desember – Januari
• MeiFinal Exam

Short Story “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”

Cerpen Seribu kunang-kunang di Manhattan.

1. Berikan pendapat Anda tentang kebahasaan yang digunakan penulis dalam beberapa cerpen yang sudah di baca!
2. Pada setiap cerpen Umar Kayam memasukkan kombinasi dua budaya. Jelaskan tentang hal ini!
3. Dari keempat cerpen yang sudah Anda Baca, Bagaimana Umar Kayam menyampaikan watak dari masing-masing karakter dalam cerpen-cerpen tersebut?
4. Jelaskan pesan yang Anda dapat dalam cerpen-cerpen tersebut!
5. Sebutkan klimaks dari masing-masing cerita!
6. Jelaskan pengaruh dari masing-masing budaya dalam keempat cerpen tersebut, antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.
7. Tuliskan sinopsis dari masing-masing cerita.

Novel “Anna Karenina”

Group presentation for novel “Anna Karenina”
1. Menjelaskan tentang biografi pengarang (Leo Tolstoy)
2. Unsur intrinsik (tema, amanat, latar sosial, latar tempat, latar waktu, peristiwa, alur, sudut pandang) jelaskan ha tersebut dengan rinci.
3. Jelaskan gambaran kehidupan moral antara tokoh yang terlibat dalam nocel, serta bukti kutipan.
4. Gambaran kehidupan sosial yang yang terdapat di dalam novel . sertakan bukti-bukti kutipan yang menggambarkan keadaan masing-masing sosial tersebut.
5. Jelaskan bentuk hukum yang tergambar dalam novel Anna Karenina.
6. Bagaimana gambaran kehidupan ekonomi masing-masing tokoh yang terdapat dalam novel. Sertakan bukti kutipan yang menggambarkan itu.
7. Dalam novel ini digambarkan tentang KEDALAMAN EMOSI CINTA, KEBENCIAN, KESEDIHAN, KECEMBURUAN, KEMARAHAN, SIMPATI, KEBAHAGIAAN DAN PENDERITAAN. Jelaskan hal ini disertai dengan bukti kutipan.

Internal Assessment (IA)

Untuk Indonesian A1….salah satu dari tugas !A (Internal Assessment) sudah selesai. Hm…kira-kira beri nilai berapa ya untuk my students. Bermacam-kualitas sih, ada yang full, ada yang setengah-setengah dan ada yang kurang. kita lihat hasilnya dari IB, Mudah-mudahan sih memuaskan. Kita lihat saja Nanti.

Tersisa empat assignments lagi yang haurs dipenuhi.
1. Internal Assessment berupa presentasi part 4
2. World Literature 1 (untuk HL dan SL)
3. World Literature 2 (hanya untuk HL)
4. Extended Essay (untuk students yang mengambil indonesia sebagai EE-nya)

Lega dulu untuk satu tugas, yang sudah diserahkan pada IT administrator, jadi tinggal dibuat dalam CD dan siap untuk dikirim ke IBO. Berkutnya tinggal 4 tugas di atas. Semoga bisa selesai lebih cepat dari waktunya, dan semoga hasilnya bisa maksimal. Guys, u can do it. Do your best :)

Short Story “Penafsir Kepedihan”

Cerpen karya Jhumpa Lahiri yang berjudul “Penafsir Kepedihan” adalah salah satu cerpen yang terdapat dalam antologi cerpen penafsir kepedihan. Ada beberapa hal yang menjadi topic pembahasan dalam cerita ini, yaitu:
1. Kejenuhan dalam pernikahan
2. Pernikahan dini
3. Perselingkuhan

Tiga hal di atas adalah yang mewarna ici dari cerita ini. Pernikahan diri yang terjadi menyebabkan kejenuhan oleh Nyonya Das, apalagi tidak adanya komunikasi yang intens antara mereka berdua, sebagai suami istri. Sang suami sibuk dengan pekerjaannya, dan istripun sibuk dengan kegiatannya di rumah. Namun begitu, Raj yang menjadi suami dari nyonya Das, merasa semua baik-baik saja dan berjalan sebagaimana mestinya. Raj tetap sibuk dengan pekerjaannya, sementara Nyonya Das yang jenuh dengan kegiatan hariannya seagai ibu rumah tangga yang selalu di rumah mengurus anak-anak dan rumahnya.

Jika kita lihat pada realitas saat ini, pernikahan dini, rumah tangga dan komunikasi adalah hal yang sangat mempengaruhi kehidupan dalam berumah tangga. Pernikahan dini, yang jika dilakukan karena suatu accident maka kesengsaraanlah yang akan mewarnainya. Namun jika pernikahan dini dilakukan oleh kesadaran masing-masing oleh pasangan itu dan dilandasai oleh perasaan cinta, maka kebahagiaanlah yang akan didapatkan. Tapi ini sangat berbanding terbalik dengan nyonya Das yang terdapat dalam cerita ini. Pernikahan yang mereka lakukan karena memang dilandasi perasaan cinta, ternyata tidak selamanya berjalan indah. Mereka yang awalnya saling mencintai, ternyata bukan jaminan untuk sebuah keberlangsungan rumah tangga itu, sehingga mencari kebahagiaan itu diluar atau dari orang lain.

Nyonya Das memasrahkan dirinya pada teman suaminya kala dia dibelai sehingga terjadilah hubungan yang singkat itu, sehingga menghasilkan sebuah benih yaitu Bobby. Ya…Bobby bukanlah anak kandung dari suaminya. Tapi adalah anak hubungannya dengan seorang Punjabi, teman suaminya. Disinilah saya menyebutnya sebagai perselingkuhan.

Di cerita ini betapa nyonya das membenci cinta dan kehidupan.
Rahasia ini disimpan oleh nyonya das selama delapan tahun, hingga akhirnya dia menceritakan semua ini pada orang yang baru saja dikenalnya, yaitu tuan Kapasi yang menjadi guide tour nya. Dia merasakan kelegaan setelah menceritakan semuanya.

“…Saya sudah lelah menanggung perasaan yang sangat menakutkan sepanjang waktu. Delapan tahun tuan Kapasi, saya telah menderita selama delapan tahun. Saya sangat berharap anda dapat menolong saya agar dapat merasa lebih baik. Katakanlah yang sebenarnya. Sarankanlah cara penyembuhannya.”

Pernyataan diatasa menggambarkan betapa rapatnya nyonya Da menyimpan rahasia perselingkuhannya itu selama bertahun-thun.

Disini tuan Kapasi melakukan sikap yang bijak. Dia mendengarkan semua cerita nyonya Das dengan seksama, dia menyarankan pada nyonya Das untuk jujur kepada suaminya. Tuan Kapasi memberikan suatu pernyataan yang tajam, atau bisa juga disebut sebagai pernyataan;
“Benarkah rasa sakit yang Anda rasakan , Nyonya Das, atau hanya sebentuk perasaan bersalah?”

Short Story “Parang Tak Berulu”

‘Parang tak berulu’. Referensi yang terdapat dalam benak kita mengenai kalimat tersebut adalah, sebuah benda tajam yang bisa digunakan untuk membelah beberapa benda yang keras dan besar seperti Kelapa ataupun untuk membelah kayu bakar. Ya…benar. Secara denotasi, makna tersebut benar dan tepat, menggambarkan sebuah benda tajam, Tapi pada cerita ini ada makna konotasi yang terdapat di dalam cerita pendek karya Raudal Tanjung Banua ini.

Sekilas mengenai cerita.

Cerpen ini diawali tentang sebuah parang yang tidak berulu atau tidak memiliki sarung pada peganganya. Parang ini digunakan oleh Gondan dan Gombak untuk segala keperluan seperti memotong kayu bakar yang menjadi sumber pencaharian mereka. Parang ini sudah lama tidak berulu, karena tidak ada yang bisa di antara mereka membuat ulu yang kuat dan tahan untuk parang tersebut. Dulu parang itu tidak pernah mereka sentuh sedikitpun, karena jibun, suami Gondan tidak mengizinkan istri dan anaknya untuk melakukan pekerjaan apapun termasuk membelah kayu yang menggunakan parang itu.
Parang hanya Jibun yang memegangnya sebelumnya, namun setelah Jibun pergi meninggalkan mereka, Gondan dan Gombaklah yang sekarang harus berjuang untuk hidup mereka, salah satunya menggunakan parang tak berulu tersebut untuk mencari kayu bakar yang menjadi sumber pencarian mereka.

Jibun adalah seorang yang sangat baik. Tapi dia tidak diterima oleh keluarga besar Gondan. Karena Jibun dianggap sebagai orang yang tak bersuku. Mereka tidak mendapat restu untuk menikah. Maksud dari tak bersuku adalah orang yang tidak diketahui asal usulnya dan keturunannya. Namun begitu Gondan dan Jibun tetap menikah, dan Jibun membuktikan pada Keluarga besar Gondan, bahwa dia bisa membahagiakan istri dan anaknya kelak. Dan dia pun membuktikannya dengan memanjakan anak dan istrinya, dan tidak memperbolehkan mereka untuk bekerja berat dan keras, sehingga orang-orang merasa iri pada keluarga mereka, dan selalu membicarakannya.

Karena dimanjakan oleh Jibun itulah yang menyebabkan kekagokan bagi Gombak dan Gondan kala ditinggal pergi oleh suaminya. Jibun pergi meninggalkan anak dan istrinya, karena selalu mendapatkan pertentangan yang terus menerus dari keluarga besar Gondan, sehingga kesabaran Jibun habis, dan dia menceraikan istrinya dan pergi serta menikah lagi dengan perempuan lain. Pengorabanan yang dilakukannya selama ini tidak dipandang oleh keluarga besar Gondan.

Semenjak ditinggalkan oleh suaminya, Gondan dan Gombak berusaha bertahan hidup dengan mencari kayu bakar yang akan di jual ke pasar. Untuk mencari kayu itulah dibutuhkannya parang. Namun sampai sekarang parang itu tidak berulu karena mereka berdua tidak tau bagaimana caranya membuat ulu untuk parang itu. Namun Gombak bertekad untuk bisa membuatkan ulu bagi parangnya.
Dan sejak ditinggakkan Jibun itu jugalah kekagokan dalam menjalani hidup dirasakan oleh mereka berdua. Mereka yang sebelumnya terbiasa dimanjakan oleh Jibun sekarang harus berjuang sendiri. Dan omongan orang-orang terdengar sebagai mengejek Gondan dan mengibaratkannya sebagai parang tak berulu. Ini terdapat pada kalimat;
“Kasihan, masih muda sudah ditinggalkan”
Yang lain menimpali “Sudah lepas kijang ke rimba”
“Sudah tak berayah anak seorang”
“Oi sudah tak berulu parang sebuah”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.