Bukan Siapa-siapa….
Siapa kita? Pertanyaan awal untuk mengetuhi identitas diri. Jika seseorang diberikan pertanyaan itu untuk masing-masing pribadi yang berbeda-beda….maka akan ada beragam jawaban yang muncul dari benak dan lisan.
Misalnya, jika pertanyaan ini ditujukan kepada mahasiswa, tentu dia akan menjawab, saya seorang mahasiswa yang kuliah di universitas ini dan kelas sekian. Setiap minggu saya aktif dalam kegiatan ini dan itu, serta beberapa jawaban lainnya. Lain halnya jika pertanyaan ini diberikan kepada pekerja. Tentu ada beberapa level dan jenis pekerja dan otomatis jawaban pun akan bervariasi.
Misalnya tukang becak menjawab; “saya hanya seorang tukang becak yang berpenghasilan…ya….setidak-tidaknya cukuplah untuk makan keluarga saya, walaupun kadang-kadang banyak kurangnya (sambil tertawa sumrih menghiasi kesulitan yang dialaminya). Bagi saya, tak penting kami bisa beli ini atau itu, yang paling penting adalah kami diberikan rasa bahagia atas semua keadaan yang kami hadapi. Itu saja sudah cukup.”
Berikut kita lihat jawaban dari seorang eksekutif atau pekerja kantoran. “Saya seorang karyawan di perusahaan ini dan bekerja dibidang ini. Kadang saya senang dengan semua ini, dan kadang saya juga tidak puas dengan semua ini. Saya ingin mendapatkan hal yang lebih lagi dari ini. Kalau belum dapat mencapai segalanya, rasanya kebahagiaan itu belum sempurna”
Hmmm…..begitu banyak jawaban atas pertanyaan yang singkat itu. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang tidak puas dengan apapun yang didapatnya, dan ada yang bahagia dengan segala kondisi yang dihadapinya. Dari sekian jawaban yang diberikan, maka rasa syukur nikmat itu kita lihat pada tukang becak. Jawaban sederhana yang sangat mnyejukkan. Seperti apapun keadaan kita harus syukuri.
Sebenarnya kita ini bukan siapa-siapa. kita ini secara fisik sama. Hanya orang sering membedakan antara yang satu dengan yang lainnya dari segi kedudukan dan kepunyaan harta. Sebenarnya harta dan kedudukan itupun juga bukan punya sendiri. Apa yang kita punya saat ini sebenarnya bukan punya kita. Kita ini hanya diberikan amanah oleh Rabbul’alamin untuk menjalaninya dengan baik dan sesuai dengan aturannya. Tapi kita semua sering lupa dengan itu semua.
Jadi….jangan berbahagialah selalu atas apa yang ada pada diri kita. Dan selalu ingat, bahwa sebenarnya kita ini sama, hanya dihadapan Rabb yang berbeda itu adalah segumpal darah yang ada di dada. Bagaimana segumpal darah itu memimpin badan dan pikiran atas iman kepada sang Khalik yang telah menciptakannya:)
Sabar donk……
Hmmm…….:) “sabar”…..kata yang sering didengar telinga dan mudah sekali muncul dari mulut. “Kamu yang sabar ya”…..itu kata yang muncul kala teman mengalami sesuatu yang tidak baik. Atau saat ada orang yang kehilangan uang maka muncul kata “yang sabar ya, nanti pasti akan dapat gantinya yang lebih baik dan lebih banyak”,…….dan berbagai situasi lainnya.
Ya…memang mudah menyarankan orang lain untuk sabar. Namun kala kita sendiri yang mengalami sesuatu, sangat jarang kita bisa berkata sabar pada diri sendiri. Yang ada hanya gerutuan, atau umpatan kecil, atau juga desahan yang menyatakan bahwa kita tidak terima akan kondisi yang kita alami. Jadi…….kenapa dengan mudah berkata, tapi sangat susah menerapkannya.
Bagaimana sebenarnya belajar sabar itu? Dan kenapa manusia selalu memberikan batas-batas terhadap hal yang sesungguhnya tidak ada batasan. Sabar pada hakikatnya tanpa batas, tapi masyarakat bumi selalu bilang “sabar sih sabar, tapi itu ada batasnya”. Kerap kali kita mendengar itu. Manusia memberikan batasan-batasab terhadap hal-hal yang sesungguhnya tidak berbatas, dan sebaliknya melanggar batas-batas terhadap hal yang sesungguhnya berbatas. Yah…begitulah manusia dan masyarakat bumi ini umumnya.
Sabar berkait erat dengan ikhlas. Seseorang bisa sabar kalau dia ikhlas terhadap apa yang dialami, terhadap qada dan qadar. Jika sabar tanpa dibarengi dengan keikhlasan atau sebaliknya, maka yakinlah…itu tak akan bekerja. Hmmmmm….benar atau tidaknya, anda pasti juga tau jawabannya.
Kita ambil contoh. Sabar tanpa ikhlas atau ikhlas tanpa sabar (hampir sama):
Rahmat mengalami sebuah musibah yang cukup besar, yaitu kebakaran rumah yang baru saja dibelinya dan itupun masih kredit setengah waktu dari waktu yang ditentukan. Rahmat mencoba menerima semua apa yang dialaminya. Dia hanya bisa menangis dan memandangi sisa-sisa kebakaran yang menghanguskan rumahnya. Tak satupun yang tersisa. Rahmat memang sabar menghadapi ini. Tanpa raungan atau sesalan-sesalan saat itu. Namun beberapa saat lamanya, kira-kira setengah tahun dari kebakaran itu, dia bercerita pada teman-temannya, “Coba kalau rumahku tidak terbakar, tentu aku bisa melakukan banyak hal di dalamnya.” Atau kalimat “Seandainya rumah itu….” Dan beberapa kalimat yang senada. Dari kalimatnya itu terlihat bahwa dia tidak ikhlas akan kehilangan yang dialaminya setengah tahun yang lalu. Dan kesabarannya selama ini tidak ada gunanya, karena dia sering menyebut-nyebut hal yang telah berlalu.
Banyak contoh sabar bisa kita pelajari. Tidak hanya dari hal-hal yang besar, mulai dari hal yang kecil itu lebih baik. Karena kecil merangkak menuju besar. InsyaAllah. Misalnya; kala didalam bus ada yang dengan tidak sengaja menginjak kaki kita, atau kala antri tiket di loket stasiun kereta api ada orang yang lama sekali mengeluarkan uang untuk membayar tiketnya, padahal kereta yang akan kita naiki akan segera berangkat, sedangkan tiket kita belum juga dibeli karena terhambat antri oleh orang yang di depan kita. Dan masih banyak ladang-ladang untuk memupuk kesabaran itu. Kita bisa belajar dari hal-hal yang kecil dan umum dulu. Dengan terlatihnya kita bersabar dan ikhlas mulai dari hal kecil, maka insyaAllah kita juga bisa pada hal yang besar.
Dan berikut contoh yang sering dihadapi perempuan dan laki-laki yang masih lajang adalah Kala dia dibanjiri dengan pertanyaan yang sama. Misalnya: kala sebagian besar dari teman-temannya sudah berumahtangga sedangkan dia sendiri yang belum. Saat ber-sms, atau chating, atau email-emailan, atau kala bertemu langsung, pertanyaan yang sama akan terlontar spontanitas dari mulut orang-orang itu “Kapan kamu mau nikah?” atau “Jangan terlalu asik kerja, hingga urusan ini dikesampingkan!” atau ungkapan lain “Kapan nih kamu nyusul?”, “Maisyah sudah ada, trus kapan aisyahnya?” atau “Kapan kamu akan punya imam?” dan pertanyaan lainnya yang senada. Pertanyaan itu cukup menyentil dan menggerahkan bagi yang mendapatkan pertanyaan itu secara terus-menerus.
Secara kodratinya siapa sih yang mau sendiri selamanya? Tentu saja jawabannya tidak. Rasulullah saja sangat suka pada orang-orang yang menikah. Hanya mungkin saja memang belum waktunya untuk itu. Bukannya si perempuan atau si laki-laki itu tidak berusaha, tapi karena memang belum saatnya. Sudah sekeras apapun usaha kalau memang belum ada izin Rabb, ya mau apa? Karena kuasa mutlak berada pada-Nya. Nah di sini juga adalah ladang untuk memupuk kesabaran bagi kita semua. Ada orang yang dengan sangat mudah urusannya, namun ada juga sebagian yang tidak begitu saja dipermudah urusannya dalam hal ini. Apapun itu, serahkan saja semua pada yang maha pemilik urusan, yaitu Allah Rabbal’alamin. Dia yang menciptakan kita, maka Dia-lah penjamin kita,
Dia-lah yang sudah menetapkan segala ketetapan atas diri kita. Yakinlah bahwa Rabb itu maha adil dan maha pemurah, pengasih dan penyayang, seperti nama yang melekat pada-Nya dalam Asmaul Husna.
So guys…jangan bersedih…la tahzan sabarlah dan ikhlas serta terus berusaha, seperti halnya diriku juga belajar untuk hal itu “sabar”.
Sedih itu Tidak Perlu
Kita diciptakan dengan segala yang ada pada diri kita dan segala yang akan kita hadapi, yang sudah kita hadapi, atau yang sekarang kita hadapi. Itulah paket yang sudah disusun, tanpa tawar-menawar sebelumnya. Tapi manusia tetaplah manusia yang hidup dan menapak di bumi ini dengan ketidak sempurnaannya.
Ada masa-masa yang selalu dipenuhi semangat. Ada masa-masa benar-benar down, dan selalu dipenuhi dengan permasalahan. Tentu saja
karena yang namanya hidup tanpa masalah bukanlah hidup, Karena kita belajar dan berjalan dari masalah-masalah itu. Tapi tentu saja tidak semua orang bisa seperti itu. Ada yang terus gigih menapakinya, ada yang langsung lesu menghadapi masalah itu, dan ada juga yang hanya biasa-biasa saja.
Manusia memang terdiri atas level-level kualitas. Ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Nah manakah posisi kita? hmmmm…bingung ya jawabnya?
Apapun posisi kita, yang pasti kita jangan mau jadi orang yang merugi, jadilah manusia yag terus melakukan perbaikan, biarpun sedikit demi sedikit yang penting berkelanjutan.
Sedih…..sesuai dengan judulnya, memang kita dikarunia kesedihan, tetapi disamping itu ditemani juga kebahagiaan, Sisi yang dua ini pasti selalu berpasang, dan tak terpisahkan. Memang kita pasti akan mengalami yang namanya kesedihan, tapi jangan berlarut hanya pada titik itu. Apa yang harus dilakukan kala kesedihan dan kejenuhan datang pada kita? ada beberapa cara memang, karena masing-masing berbeda, dan punya cara yang juga berbeda. Yang pasti apapun itu…tetaplah penyerahan dan ketawakalan ditumpukan pada Rabb. Namun harus ikhtiar dahulu untuk mengubah kondisi itu, dan iringan doa tentunya.
Jadi, teman-teman…jangan biarkan kesedihan itu berlarut dalam dirimu
Tantangan
Terasa sekali capek menghadapi kelas ini. Ga tau lagi harus berbuat apa. i have no idea. Dulu aku berpikir klo kelas-kelas nakal yang ada dalam film mandarin itu, hanya sekedar film…..eee…….ternyata memang ada realnya, dan justru aku menghadapinya. Capek dengan kelas ini. Ga tau harus bagaimana.
Seandainya boleh memilih, mungkin akan mengundurkan diri untuk tidak mengajar mereka. Tak terlihat kesopanan dan etika terhadap teachernya. kapankah mereka akan sadar ya? Apakah memang masanya mereka bersikap seperti ini? tapi sampai kapan?
Berharap ini akan segera berlalu dan menjelang semester dua dengan lebih baik. Guys….please…lissent to me…just 4 periods a week. What tha matter is?
Mungkin memang ini salah satu tantangan dalam mengajar. Aku lebih enjoy mengajar DP (Diploma Program/SMU) karena mereka walaupun terkadang agak jenuh dan susah diatur, tapi tetap menghormati teachernya…dan mereka diajak becanda. Mereka bisa dijadikan teman. Berharap kelas 12 ini bisa lulus IB dengan nilai yang baik.
Kenangan…
Ya…memang semua kita mengalami perubahan. Mulai dari fisik sampai pada perubahan pemikiran. Dulu waktu SD dengan tingkah dan pola pikir yang lugu. Kemudian berlanjut kemasa SMP, itupun mengalami perubahan yang besar. termasuk pemikiran dan rasa ingin tau yang sangat besar terhadap semua hal. Kemudian kala masuk SMU, terjadi lagi metamorfosis. Kedewasaan mulai tampak, dan pola pikir sudah mulai bisa memikirkan sebab akibat.
Itulah metamorfosis yang juga aku alami. dari TK-SMU semuanya sangat berubah. dan karakter juga watakpun berubah. Masa yang paling ku ingat adalah masa SMP dan SMU.
SMP aku orang yang suka bersaing. Kala itu aku punya satu orang pesaing berat dan sekaligus sahabat. Kami saling bersaing untuk mendapatkan posisi terbaik, terutama dalam hal akademis. kami bersaing secara sehat dan tentunya saling support dan saling tukar pikiran. Nama sobatku itu Ellya Fitra. Sekuat tenaga dan pikiran aku berusaha mengalahkannya, tapi tidak bisa. Dia orang sederhana yang tidak terkalahkan. Kesederhanaannya memukauku. Kesederhanaannya mempesonaku. Sebab itulah aku suka bersahabat dan sekaligus bersaing dengannya. Sku selalu saja diposisi 2 dan dia posisi 1. Ingin sekali menepati posisi 1 itu, tapi ternyata nomor 1 itu sudah bersahabat dengannya, makanya tidak bisa berpindah-pindah lagi sang angka 1 pada yang lain. Aku sendiri, sealu posisi 2 dan kadang 3. Tarik ulur seperti layang-layang. Siapa yang menduduki posisi ke tiga? hmm…..nama Fadly (aku lupa nama lengkapnya). Dalam memoriku saat ini, wajah kecil mereklah yang selalu melekat di benak ini. karena setelah tamat SMP kami tidak pernah jumpa lagi, bahkan komunikasi apapun, karena kala itu handphone belum sedahsyat saat ini. Aku kehilangan jejak dua teman itu. Fadly juga adalah saingan terberatku.
aku berhasil mempertahankan kedudukanku di posisi dua, tapi kadang Fadly pun bisa mengambilnya dariku. makanya posisi kami saling gonta ganti, tapi tetap aku yang dominan…heheheh…
Guys, apakabar kalian sekarang? dan dimanakah kalian, sungguh rindu diri ini.
masa berikutnya yang aku ingat dalah SMU. Aku selalu ingat kata-kata guru matematikaku waktu di SMU dulu, nama panggilannya Pak Haji. Beliau selalu berkata “Masa yang paling indah itu adalah SMU” jadi kalian manfaatkanlah waktu kalian dengan sebaik mungkin dan seindah mungkin. Setelah lebih dari 7 tahun meninggalkan SMU, aku sangat merasakan makna dari kata itu. Iya…memang indah masa SMU.
Dimasa inilah aku mulai mengalami metamorfosis berikutnya. Waktu kelas 1 aku termasuk pendiam. Tapi saat masuk kelas 2 aku sudah mulai berbaur dengan yang lain dan mengenal karakter dari masing-masing temanku, Satu orang satu karakter. Aku suka dan senang dengan masa itu. Aku bisa bergaul dan berteman dengan lebih luas lagi. tidak hanya teman satu kelas saja. Aku pun juga berteman dengan teman lain kelas dan lain jurusan. ada jurusan IPA, dan IPS. Disinalh kenangan-kenangan indah itu selalu ada setiap hari. Kami bersaing, kami bergaul dan kami bertanding. Aku rindu semua masa ini. sangat merindukannya.
Sekarang keadaan sudah berbeda. Kala kuliah sifat individu sudah melekat pada masing-masing mahasiswa, tapi aku tetap berusaha kompak dengan teman satu jurusan. Sungguh berbeda nuansa kuliah. keindividuan yang aku sungguh tak suka, tapi juga ada keeratan hubungan antara satu sama lain. Tapi tetaplah SMU yang paling kusuka.
Ya Rabb…..aku ingin kenangan itu tetap indah. Guys…i miss u all
Dunia
Ya….dunia adalah tempat singgah saat ini. Banyak hal yang rasanya ingin dilakukan dan bisa kelar….tapi ternyata tidak bisa. Waktu yang dipunya hanya sebentar sedangkan yang mau diselesaikan banyak…so…how to do it?
Ga usah bingunglah…apapun dan bagaimanapun caranya, intinya adalah bisa mengatur semua dengan benar dan ikhlas melakukannya. Walaupun nanti hasilnya tidak selalu sesuai dengan keinginan, jangan bersedih…karena tidak semua yang kita inginkan kita dapatkan, dan tidak semuanya dengan mudah kita peroleh…tidak. Butuh usaha, waktu, dan terakhir tawakal. Karena Takdir sudah diatur oleh Rabb dengan rapi dan apik, hanya nasib kita masih bisa kita ubah…caranya? ya…temukan saja caranya, karena masing-masing kita berbeda.
Hari ini tentu akan berbeda dengan hari esok. tapi bagaimana carnya biar esok lebih baik bukannya lebih buruk…:) saya yakin, kita seua tau caranya dan kita bisa….karena kita diberi anugrah untuk berpikir dan berusaha. tetaplah bahagia akan apa yang kita terima. karena yakinlah apapun itu, maka itulah yang terbaik.
Aku teringat kiriman pesan dari temanku “Dont be happy for a reason, bcoz that happiness ends with that reason.
Be happy without any reason, u will be happy forever.. (janganlah berbahagia atas sebuah alasan, karena kebahagiaan itu akan berakhir dengan alasan itu. Tapi bahagialah tanpa alasa, maka kamu akan bahagia selamanya)
Baiklah….mari kita teruskan hidup kita, dan mengisinya selalu dengan kebaikan. Kebaikan yang kita beri maka insyaAlah kebaikan pulalah yang akan kita terima
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- November 2009 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
